PSYREAL: FOMO, TikTok, dan Kontrol Diri Apa Hubungannya?
Sumber foto: Pexels (diakses 25/11/25)
PSYREAL kali ini membahas penelitian yang dilakukan oleh Fika Tsi Marul Janiyah bersama dosen Fakultas Psikologi Universitas Negeri Surabaya, Dr. Damajanti Kusuma Dewi, S.Psi., M.Si. Penelitian ini berjudul “Hubungan antara Kontrol Diri dengan Fear of Missing Out pada Pengguna Media Sosial TikTok” yang dipublikasikan dalam Character: Jurnal Penelitian Psikologi pada tahun 2024.
Dalam beberapa tahun terakhir, media sosial khususnya TikTok menjadi ruang aktivitas yang tak bisa dipisahkan dari kehidupan remaja dan dewasa muda. Satu notifikasi, satu konten viral, atau satu tren baru sering kali cukup membuat pengguna merasa “harus ikut,” “harus tahu,” atau merasa mengetahui semua hal terkini di media sosial. Fenomena ini dikenal sebagai Fear of Missing Out atau yang sering kita sebut FOMO, yaitu perasaan cemas ketika merasa tertinggal dari aktivitas orang lain.
TikTok menjadi platform yang mampu memberikan informasi hanya melalui video berdurasi pendek, kemudahan ini kemudian membuat penggunanya merasa harus selalu “update”. Akses informasi yang cepat dan tanpa henti inilah yang akhirnya membuat sebagian pengguna terus membuka aplikasi, takut ketinggalan tren, hingga memunculkan fenomena FOMO.
Fenomena inilah yang mendorong peneliti untuk meneliti bagaimana kontrol diri berhubungan dengan munculnya FOMO pada pengguna TikTok. Menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional, penelitian ini melibatkan 200 mahasiswa aktif pengguna TikTok. Instrumen yang digunakan meliputi skala kontrol diri dan skala FOMO yang telah melalui uji validitas dan reliabilitas.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan negatif yang signifikan antara kontrol diri dan FOMO. Artinya, semakin tinggi kontrol diri seseorang, semakin rendah kecenderungannya mengalami FOMO. Sebaliknya, individu dengan kontrol diri rendah lebih mudah terdorong untuk terus membuka TikTok, mengikuti tren tanpa batas, dan merasa tertinggal ketika tidak “online”. Temuan ini memperlihatkan bagaimana kemampuan mengatur diri, baik secara emosi maupun perilaku, turut menentukan sehat tidaknya interaksi seseorang dengan media sosial.
Penelitian ini juga memberi gambaran penting bahwa FOMO bukan sekadar “kecanduan TikTok” atau “kepingin ikut tren,” melainkan bagian dari dinamika psikologis yang melibatkan pengelolaan diri. Kontrol diri membantu seseorang menentukan kapan harus berhenti, kapan harus fokus pada kehidupan nyata, serta kapan harus menolak dorongan untuk terus terhubung. Tanpa kontrol diri yang memadai, media sosial dapat menggerus keseimbangan mental melalui perbandingan sosial yang tidak sehat dan kecemasan karena merasa tertinggal.
Melalui penelitian ini, kita belajar bahwa keberadaan media sosial tidak sepenuhnya negatif. Yang menjadi tantangan adalah bagaimana individu mengelola dirinya di tengah arus informasi yang terus bergerak. Tingginya FOMO pada pengguna TikTok mengingatkan bahwa kesehatan mental bukan hanya tentang apa yang kita konsumsi, tetapi bagaimana kita mengatur kebutuhan, dorongan, dan batasan diri. Kontrol diri bukan sekadar kemampuan menahan diri, tetapi juga bentuk merawat diri agar tidak tenggelam dalam tuntutan yang sebenarnya tidak harus kita ikuti.
Sumber: Janiyah, F. T. M., & Dewi, D. K. (2024). Hubungan antara kontrol diri dengan fear of missing out pada pengguna media sosial TikTok. Character: Jurnal Penelitian Psikologi, 11(2), 132–142.
Penulis: Nurul Aini Rosyida
Share It On: