Korelasi Self-Esteem Dan Self-Disclosure Pada Siswa Pengguna Instagram
Penelitian ini membahas korelasi antara harga diri (self-esteem) dengan pengungkapan diri individu (self-disclosure). Penelitian ini dilakukan di sma negeri 1 karena remaja merupakan kelompok yang sangat aktif dalam menggunakan sosial media . Keputusan siswa sebagai objek penelitian ini tentunya didasari dengan alasan yang kuat. Lenhart et al. (2010) menunjukan bahwa 93% pengguna media sosial adalah remaja dengan rentang usia 12 hingga 17 tahun. Pada tahun 2024 Kementrian KOMINFO melakukan survei terhadap 400 responden dengan remaja usia 10-19 tahun. Hasil survei menunjukan bahwa 79% remaja menggunakan media sosial. Berdasarkan data tersebut, siswa sma dipandang sebagai objek yang tepat dan representatif untuk penelitian ini. Mengingat bahwa masa remaja merupakan tahap perkembangan psikososial mereka.
Penelitian ini berkaitan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs). Dalam penelitaian ini membahas seputar Kesehatan mental remaja. Hal ini sejalan dengan SDG 3 mengenai Kesehatan dan Kesejahteraan. Selain itu karena penelitian ini dilakukan di lingkungan sekolah, maka sejalan dengan SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas, terutama dalam memahami perkembangan sosial-emosional remaja. Di sisi lain keterbukaan diri dan hubungan interpersonal berkaitan dengan SDG 16, yang menekankan pentingnya interaksi sosial yang positif dan inklusif.
Nasrullah (2015), berpendapat bahwa media sosial terdiri dari beberapa jenis diantaranya adalah facebook, twitter, path, instagram, blog, youtube, dan sebagainya. Media sosial yang paling banyak digemari saat ini adalah instagram. Instagram merupakan salah satu media sosial yang difokuskan pada unggahan foto dan video secara gratis. Pada masa ini remaja telah mencapai masa sosial. Remaja memiliki tugas perkembangan untuk menjalin hubungan baru yang lebih matang dengan teman sebayanya serta mencapai tingkah laku sosial yang bertanggung jawab (Havighurst dalam Alwisol, 2008). Aplikasi ini mempermudah mereka untuk berkomunikasi dan menjalin hubungan dengan orang lain. Aplikasi ini juga membantu remaja untuk membangun personal branding serta wadah untuk pengungkapan diri.
Mengapa pengungkapan diri penting?,
Karena pengungkapan diri merupakan salah satu faktor penting dalam hubungan manusia. Melalui pengungkapan diri, seseorang bisa menyampaikan pendapat, perasaan, pengalaman, atau keinginannya yang mengarah pada keterbukaan diri. Keterbukaan diri ini mengacu pada kondisi dimana seseorang mengungkapkan aspek dirinya sendiri mengenai informasi pribadi, pengalaman, pemikiran pribadi, dan perasaan pribadi (Barak & Gluck Ofri, 2007). Pada nantinya hubungan keterbukaan ini akan menciptaka hubungan timbal balik yang positif dan menguntungkan satu sama lain. Hal ini juga berkaitan dengan konsep harga diri, Schimel, Arndt, Psyszczynski & Greenberg (2001) menyatakan bahwa remaja dengan harga diri yang tinggi akan lebih percaya diri pada kemampuan yang dimilikinya sehingga akan lebih terbuka untuk mengungkapkan informasi pibadinya dibandingkan dengan seseorang yang harga diri yang rendah.
Melalui penelitian ini disimpulkan menunjukkan bahwa dalam konsep pengungkapan diri, harga diri merupakan factor terpenting. Karena seseorang dengan harga diri yang tinggi, kepercayaan dirinya akan meningkat untuk terbuka dengan orang lain. Sehingga ia akan merasa memiliki ruang untuk mengungkapkan dirinya. Seseorang itu akan merasa aman dalam berpendapat, meyampaikan pendapat dan perasaan. Begitupun sebaliknya, apabila seseorang merasa harga diri nya rendah ia akan cenderung pesimis. Dalam kasus ini seseorang cenderung memiliki kepercayaan diri yang rendah dan enggan memyampaikan pendapat dan perasaannya pada orang lain.
sumber:
Budi Utomo, W. P., & Laksmiwati, H. (2019). Hubungan harga diri dengan pengungkapan diri pada siswa-siswi pengguna jejaring sosial Instagram di SMA Negeri 1 Gedangan. CHARACTER: Jurnal Penelitian Psikologi, 6(1). https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/character/article/view/27348?utm_source=
Share It On: