Fenomena “Feeling Watched”: Mitos atau Fakta Dalam Psikologi
Sumber Foto: Daily Mail
Banyak orang mengaku pernah merasakan sensasi “seperti
diawasi”, meskipun tidak ada siapapun di sekitar mereka. Fenomena ini sering
dipandang sebagai mitos yang berkaitan dengan hal mistis, intuisi tajam, atau
“pertanda”. Namun, dalam kajian psikologi, sensasi tersebut sebenarnya dapat
dijelaskan secara ilmiah. Fenomena ini dikenal sebagai “gaze detection” atau
deteksi tatapan, yaitu kemampuan otak manusia untuk merespons kemungkinan
adanya seseorang yang sedang memperhatikan dirinya. Sejumlah penelitian
menjelaskan bahwa manusia memiliki sistem kewaspadaan alami yang bekerja bahkan
ketika tidak ada stimulus visual yang jelas.
Penelitian menunjukkan bahwa manusia memiliki kemampuan
alami untuk mendeteksi arah tatapan seseorang, bahkan ketika rangsang visualnya
samar. “The human brain displays rapid and automatic sensitivity to gaze
direction even under minimal visual cues.” (Guterstam et al., 2019). Temuan
ini menunjukkan bahwa sistem saraf memiliki mekanisme bawaan untuk memproses
tatapan sebagai sinyal sosial yang penting. (Guterstam et al., 2019).
Menurut penelitian yang diterbitkan dalam Current Biology,
otak manusia sangat sensitif terhadap arah tatapan dan isyarat sosial lain,
sehingga terkadang menciptakan “false alarm” rasa seolah-olah sedang
diawasi padahal tidak. Hal ini dapat dipengaruhi oleh kecemasan, kelelahan, dan
stres yang meningkatkan aktivitas sistem kewaspadaan.
Faktor emosional juga memperkuat fenomena ini. “Individuals
with elevated anxiety tend to over-detect social cues, including gaze, due to
heightened threat monitoring.” (Senju & Johnson, 2009). Kondisi stres
atau lelah dapat membuat otak semakin sensitif terhadap potensi ancaman
sehingga menciptakan persepsi yang keliru. (Senju & Johnson, 2009).
Meski masyarakat sering menghubungkan fenomena “feeling
watched” dengan aspek supranatural, kajian ilmiah menunjukkan bahwa sensasi
tersebut adalah bagian dari mekanisme evolusioner untuk menjaga kewaspadaan.
Pemahaman ilmiah ini diharapkan dapat membantu masyarakat menafsirkan
pengalaman sehari-hari secara lebih rasional.
Daftar Pustaka
Guterstam, A., Kean, H. H., Webb, T. W., Kean, F. S., &
Graziano, M. S. A. (2019). Implicit gaze processing in the human superior
temporal sulcus. Current Biology, 29(15), 2517–2525. https://doi.org/10.1016/j.cub.2019.06.017
Guterstam, A., Kean, H. H., Webb, T. W., Kean, F. S., &
Graziano, M. S. A. (2019). Implicit gaze processing in the human superior
temporal sulcus. Current Biology, 29(15), 2517–2525. https://doi.org/10.1016/j.cub.2019.06.017
Senju, A., & Johnson, M. H. (2009). The eye contact
effect: Mechanisms and development. Trends in Cognitive Sciences, 13(3),
127–134. https://doi.org/10.1016/j.tics.2008.11.009
Share It On: