Bystander Effect dan Tantangan Kepedulian Sosial di Ruang Publik
Sumber foto: Sindonews.com Fenomena kurangnya kepedulian di ruang publik seringkali bukan disebabkan oleh ketidakpedulian individu, melainkan oleh mekanisme psikologis yang dikenal sebagai Bystander Effect. Teori ini menjelaskan kecenderungan seseorang untuk tidak segera menolong ketika berada dalam situasi darurat yang melibatkan banyak orang. Semakin banyak saksi yang hadir, semakin besar kemungkinan individu memilih diam dengan asumsi bahwa orang lain akan bertindak.
Dalam kehidupan sehari-hari, Bystander Effect dapat ditemukan pada berbagai situasi sederhana. Misalnya, ketika seseorang terjatuh di stasiun atau pusat perbelanjaan yang ramai, tidak jarang orang-orang di sekitarnya hanya menoleh sebentar lalu melanjutkan aktivitasnya. Mereka menunggu petugas keamanan, tenaga medis, atau orang lain yang dianggap lebih berwenang untuk membantu. Secara psikologis, kondisi ini disebut sebagai difusi tanggung jawab, yaitu pembagian tanggung jawab secara tidak sadar kepada banyak orang.
Fenomena ini menjadi tantangan serius dalam membangun masyarakat yang peduli dan responsif. Padahal, tindakan kecil seperti bertanya kondisi korban, memanggil bantuan, atau memberi ruang aman sudah merupakan bentuk pertolongan yang berarti. Kesadaran terhadap Bystander Effect penting untuk ditanamkan agar individu berani mengambil inisiatif tanpa menunggu orang lain.
Dari sudut pandang pembangunan berkelanjutan, pemahaman tentang Bystander Effect sejalan dengan SDG 3 (Good Health and Well-Being) yang menekankan keselamatan dan kesejahteraan, serta SDG 16 (Peace, Justice, and Strong Institutions) yang mendorong tanggung jawab sosial dan kepedulian antarwarga. Dengan meningkatkan kesadaran psikologis masyarakat, diharapkan ruang publik menjadi lebih aman dan manusiawi. Penulis: Helnemia Crystin
Referensi: Darley, J. M., & Latané, B. (1968). Bystander intervention in emergencies: Diffusion of responsibility. Journal of Personality and Social Psychology.
Share It On: