PSYREAL: Belajar Berdamai dengan Penyesalan Lewat Self-Compassion
Sumber foto: https://www.pexels.com/@ron-lach/
PSYREAL (Psychology Research and Learning)
hadir untuk mengulas berbagai hasil penelitian dosen Fakultas Psikologi UNESA
secara ringan dan mudah dipahami. Melalui PSYREAL, pembaca diajak melihat
bagaimana riset psikologi tidak hanya berhenti di ruang akademik, tetapi juga
dekat dengan kehidupan sehari-hari dan relevan dengan isu global seperti
Sustainable Development Goals (SDGs) — khususnya tujuan ke-3, yaitu Good Health
and Well-being atau kesehatan dan kesejahteraan mental.
Tim dosen Fakultas Psikologi UNESA — Qurrota
A’yuni Fitriana, Mimbar Oktaviana, Ellyana Ilsan Eka Putri, Desi Nurwidawati,
Arfin Nurma Halida, dan Hayyin Farihatul Mauliyah — baru-baru ini
melakukan penelitian berjudul “The Relationship Between Regret,
Self-Compassion, and Mental Health Among College Students.”
Penelitian ini berangkat dari fenomena yang
sangat dekat dengan kehidupan mahasiswa: penyesalan. Entah karena
keputusan yang salah, kesempatan yang terlewat, atau hasil yang nggak sesuai
harapan, rasa menyesal pasti pernah mampir di hidup kita semua. Tapi,
menariknya, penelitian ini justru menunjukkan bahwa penyesalan nggak selalu
harus berakhir buruk.
Lewat riset yang melibatkan lebih dari 200
mahasiswa, para peneliti mencoba melihat bagaimana self-compassion, kemampuan
untuk berbelas kasih pada diri sendiri, bisa membantu seseorang mengelola rasa
menyesal dan menjaga kesehatan mentalnya.
Hasilnya cukup menarik! Mahasiswa yang
memiliki tingkat self-compassion tinggi ternyata cenderung memiliki
kesehatan mental yang lebih baik. Mereka lebih bisa menerima kesalahan
tanpa menghukum diri sendiri secara berlebihan, dan justru belajar dari
pengalaman tersebut.
Peneliti juga menemukan bahwa penyesalan
bisa memicu seseorang untuk mengembangkan self-compassion. Dengan kata
lain, ketika seseorang sadar bahwa kesalahan adalah bagian dari proses belajar,
ia bisa lebih lembut terhadap dirinya sendiri. Temuan ini memberi pesan kuat
bahwa memaafkan diri sendiri adalah langkah penting menuju kesejahteraan
mental.
Penelitian ini relevan banget buat
kehidupan mahasiswa zaman sekarang yang sering merasa harus “sempurna” di
segala hal. Di tengah tekanan akademik, ekspektasi diri, dan perbandingan
sosial di media, kemampuan untuk bersikap lembut pada diri sendiri bisa jadi
pelindung mental yang luar biasa.
Jadi, kalau kamu sedang menyesali sesuatu
yang nggak berjalan sesuai harapan, ingat: itu manusiawi banget. Nggak apa-apa
gagal, nggak apa-apa kecewa. Yang penting, jangan berhenti di rasa bersalah.
Belajar, tumbuh, dan kasih ruang buat dirimu sendiri untuk tetap maju ya!
Penulis: Helnemia Crystin
Daftar Pustaka
The Relationship Between Regret, Self-Compassion, and Mental Health Among College Student DOI: 10.1051/shsconf/202522408004
bikinin hyperlink
Share It On: