Belajar Memanusiakan Manusia: Perjalanan Magang Lucky di RSJ Lawang
Surabaya, November 2025 — Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Negeri Surabaya (UNESA), Lucky, yang akrab disapa Lulu, membagikan pengalaman berkesannya selama menjalani magang di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Dr. Radjiman Wediodiningrat Lawang.
Pengalaman ini tidak hanya memperluas wawasan akademiknya, tetapi juga memperdalam profesionalitas dan pemahaman akan empati dalam praktik psikologi serta penerapannya di dunia nyata.
Selama magang, mahasiswa Psikologi UNESA ditempatkan secara bergilir di beberapa unit, yaitu Bangsal Pria, Bangsal Wanita, Poliklinik Psikologi, PKRS (Promosi Kesehatan Rumah Sakit), dan Rehabilitasi. Pada minggu pertama, Lucky menjalani orientasi dan pengenalan terhadap lingkungan rumah sakit serta belajar dasar-dasar scoring tes psikologi seperti Multiple Intelligence, CPM, dan SPM.
Beberapa minggu berikutnya, ia bertugas di Bangsal Pria dan Bangsal Wanita untuk melakukan observasi dan wawancara pasien, menggali riwayat hidup serta kondisi psikologis mereka. Pengalaman tersebut menumbuhkan rasa empati sekaligus ketangguhan dalam menghadapi dinamika pasien dengan berbagai gangguan jiwa.
“Berinteraksi dengan pasien mengajarkan saya menyeimbangkan empati dan profesionalitas. Mereka bukan sekadar kasus, tetapi manusia yang layak dihormati dan dipahami,” ungkapnya.
Setelah menyelesaikan penempatan di bangsal, Lucky melanjutkan praktik di Poliklinik Psikologi sebagai instruktur tes dan observer dalam sesi asesmen bersama psikolog. Ia kemudian berkesempatan untuk belajar di divisi PKRS (Promosi Kesehatan Rumah Sakit), tempat staf promosi rumah sakit menjadi pihak utama dalam menjalankan kegiatan penyuluhan dan edukasi kesehatan bagi masyarakat.
Walau kadang melibatkan psikolog dalam kegiatan tertentu, peran utama di PKRS dipegang oleh tim promosi rumah sakit yang berfokus pada penyebaran informasi dan peningkatan kesadaran masyarakat terkait kesehatan mental.
Di bagian Rehabilitasi, Lucky belajar bagaimana pasien dilatih membuat keterampilan seperti kerajinan tangan dan makanan ringan sebagai bagian dari proses pemulihan agar dapat kembali mandiri di masyarakat.
Bagi Lucky, pengalaman magang di RSJ Lawang menjadi titik penting dalam perjalanan akademiknya. Ia merasa banyak belajar dari dunia nyata yang selama ini hanya dipelajari melalui teori di kampus. Menghadapi pasien dengan gangguan seperti Skizofrenia Hebephrenik, Paranoid, BPD (Borderline Personality Disorder), hingga DID (Dissociative Identity Disorder) membuatnya semakin memahami kompleksitas psikologi manusia.
Selain memperkuat kemampuan profesional, pengalaman ini juga menumbuhkan kesadaran spiritual dan rasa syukur yang mendalam. Lucky menyebut bahwa keberhasilannya menjalani magang tidak terlepas dari dukungan berbagai pihak.
Sosok ibunya, seorang perawat, menjadi sumber semangat dan inspirasi yang selalu memberi dukungan moral serta perspektif medis yang berharga.
Dua pembimbing lapangan, Pak Kiko dan Bu Nia, juga berperan besar dalam perjalanan magangnya. Keduanya dikenal sabar dan detail dalam membimbing mahasiswa, serta mendorong mereka untuk berpikir kritis dan bertanggung jawab terhadap hasil kerjanya.
“Saya bersyukur Tuhan masih memberi kesempatan belajar di tempat ini. Saya ingin memaksimalkan setiap pengalaman agar kelak bisa membantu orang lain dengan sepenuh hati,” tutupnya.
Bagi Lucky, magang di RSJ Lawang adalah perjalanan berharga untuk membentuk profesionalisme dan karakter sebagai calon psikolog. Pengalaman ini sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 3: Kesehatan dan Kesejahteraan yang Baik serta SDG 4: Pendidikan Berkualitas, karena mencerminkan komitmen Fakultas Psikologi UNESA dalam mencetak lulusan yang berkompeten, berempati, dan berdaya saing global.
Share It On: