MINDSET: Hilang Kendali Atas Diri Sendiri Dalam Tinjauan Self-Determination Theory
Pernah nggak sih kalian melihat seorang penyanyi yang
kariernya sedang berada di puncak, tapi tiba-tiba memutuskan untuk keluar dari
dunia hiburan?
Di saat banyak orang menganggap itu sebagai titik tertinggi
yang harus dipertahankan, justru ada yang memilih untuk pergi. Keputusan yang
bagi sebagian orang terasa membingungkan—bahkan mungkin disayangkan.
Tapi, benarkah semua pencapaian selalu sejalan dengan rasa
terpenuhi?
Jawabannya , tidak selalu . Ada saat di mana seseorang
merasa hampa dalam dirinya, bahkan ketika semua yang ia impikan telah tercapai. Lalu muncul
pertanyaan lain: apakah tercapainya
impian tersebut benar-benar menghadirkan rasa nyaman?
Bisa jadi bukan
pencapaiannya yang menjadi masalah, melainkan bagaimana proses itu dijalani. Mungkin
dalam proses tersebut ia merasa terlalu banyak pihak yang terlibat, visi dan misi
yang tidak lagi sejalan dengan dirinya, hingga tanpa disadari ia merasa
kehilangan kendali atas dirinya sendiri.
Jika dilihat dari sudut pandang psikologis, situasi ini dapat
dipahami melalui selg determination theory. Teori ini menjelaskan bahwa setiap
individu memiliki tiga kebutuhan dasar: otonomi, kompetensi, dan keterhubungan.
Pertama, kebutuhan akan otonomi. Keinginan individu untuk
menjalani kehidupannya atas kendali dirinya sendiri, dalam beberapa situasi, seseorang
bisa tampak menjalani hidup yang ideal, seperti meraih berbagai pencapaian. Namun
, perlahan ia merasa keputusan penting dalam hidupnya diambil atas keputusan orang
lain. Maka, ketika arah, ritme, hingga hal kecil dalam hidupnya mulai
ditentukan orang lain, rasa memiliki kendali atas hidup sendiri bisa memudar.
Kedua, dorongan untuk memiliki kompetensi.Keinginan untuk merasa
mampu dan terus berkembang. Banyak orang justru merasa kehilangan tantangan
setelah mencapai puncak kesuksesan hidupnya. Apa yang dulu menantang,
lama-kelamaan berubah menjadi rutinitas biasa. Pada fase ini, keinginan untuk mengeksplorasi area baru sering muncul,
bukan karena tak sanggup bertahan, melainkan karena keinginan untuk terus maju
Ketiga, kebutuhan akan keterhubungan.Keinginan untuk merasa
dekat dan terhubung secara tulus dengan orang lain. Menariknya, berada di
lingkungan yang penuh interaksi tidak selalu berarti seseorang merasa
benar-benar terhubung. Ada kalanya, hubungan yang terjalin terasa lebih sebagai
tuntutan peran daripada kedekatan yang autentik.
Hal ini juga berkaitan dengan Sustainable Development Goals
(SDGs), khususnya SDG 3 tentang kehidupan sehat dan sejahtera. Ketika individu
kehilangan kendali atas dirinya, keseimbangan hidup pun ikut terganggu,
meskipun secara pencapaian terlihat berhasil. Oleh karena itu, memahami
pentingnya otonomi, perkembangan diri, dan keterhubungan menjadi bagian dari
upaya menciptakan kehidupan yang lebih berkelanjutan.
Pada akhirnya, keputusan untuk pergi tidak selalu berarti
meninggalkan sesuatu yang buruk. Bisa jadi, itu adalah upaya untuk
menyeimbangkan kembali kebutuhan-kebutuhan yang selama ini terabaikan. Ketika
otonomi mulai terasa hilang, perkembangan terasa stagnan, dan keterhubungan
kehilangan maknanya, melangkah keluar menjadi salah satu cara untuk kembali
menemukan diri.
Share It On: