Konsumerisme: Beli Banyak, Bahagia Sebentar, Kosong Berkepanjangan
Konsumerisme adalah sebuah budaya atau gaya hidup yang berfokus pada pembelian barang atau jasa secara berlebihan dan impulsif. Hal ini sering kali didorong oleh keinginan akan status sosial daripada kebutuhan, yang kemudian memicu normative social influence, yaitu dorongan untuk merasa diterima oleh lingkungan sosial.
Konsumerisme memang dapat memberikan kenyamanan, status, dan kepuasan. Namun, di balik itu, konsumerisme juga memiliki dampak besar terhadap kesehatan mental. Berikut beberapa dampaknya.
Pertama, disatisfaksi, yaitu kondisi di mana konsumerisme menanamkan pola pikir bahwa kebahagiaan dan harga diri bergantung pada kepemilikan materi. Budaya ini mendorong individu untuk terus mengejar hal berikutnya, sehingga memicu perasaan tidak pernah puas. Hal ini juga berkaitan dengan comparison culture, terutama di era digital, di mana iklan dan media sosial menjadi sarana untuk membandingkan diri dengan orang lain. Akibatnya, individu dapat merasa kurang baik dibandingkan orang lain.
Kedua, hubungan tohor. Dalam masyarakat yang berorientasi pada materialisme, hubungan sosial dapat terganggu karena individu lebih memprioritaskan harta benda dibandingkan interaksi yang bermakna. Kondisi ini juga dapat menurunkan empati (reduced empathy), karena fokus berlebihan pada diri sendiri dan perbandingan sosial.
Ketiga, mendorong tindakan tanpa berpikir, seperti kecanduan belanja (shopaholic behavior). Individu cenderung berbelanja secara berlebihan untuk mendapatkan kebahagiaan sesaat atau sebagai cara untuk mengatasi kecemasan yang dirasakan.
Fenomena ini juga berkaitan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan atau SDGs, khususnya kesehatan mental dan kesejahteraan (SDG 3: Good Health and Well-being) serta konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab (SDG 12: Responsible Consumption and Production). Konsumerisme yang tidak terkendali dapat menghambat tercapainya kesejahteraan individu sekaligus mendorong pola konsumsi yang tidak sehat.
Sebagai penutup, penting bagi individu untuk lebih sadar terhadap pola konsumsi agar tidak berdampak negatif pada kesehatan mental, sekaligus mendukung tercapainya tujuan pembangunan berkelanjutan.
Penulis: Helnemia Crystin
Email: helnemiacrystin@gmail.com
Share It On: