Suicide Prevention Month: Memahami Luka Psikologis, Membangun Kepedulian di Kampus
September menjadi momentum kampanye Suicide Prevention Month atau Bulan Pencegahan Bunuh Diri, yang juga mencakup peringatan Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia pada 10 September. Momentum ini mengajak masyarakat memahami penderitaan psikologis dan membangun lingkungan yang memudahkan seseorang memperoleh pertolongan. Dalam kehidupan kampus, kepedulian tersebut relevan dengan pengalaman mahasiswa, dosen, maupun tenaga kependidikan yang menghadapi beragam tekanan. Organisasi Kesehatan Dunia menegaskan bahwa bunuh diri merupakan persoalan kompleks yang dipengaruhi interaksi faktor psikologis, biologis, sosial, budaya, dan lingkungan. Karena itu, menjelaskan krisis seseorang hanya sebagai akibat “kurang kuat” atau satu kejadian tertentu dapat mengaburkan kebutuhan pertolongan yang sebenarnya. (NAMI, n.d.; WHO, 2026)
Secara psikologis, salah satu pengalaman yang perlu dipahami adalah perasaan terjebak: ketika seseorang mengalami penderitaan dan merasa tidak memiliki jalan keluar yang dapat dijangkau. Model Integrated Motivational–Volitional dari O’Connor dan Kirtley (2018) menjelaskan bagaimana pengalaman kekalahan atau penghinaan dapat berkembang menjadi keterjebakan, yang kemudian berperan dalam munculnya pikiran bunuh diri. Sebagai ilustrasi, kesulitan menyelesaikan studi dapat terasa jauh lebih berat ketika dimaknai sebagai kegagalan diri secara keseluruhan, disertai keyakinan bahwa masa depan telah tertutup. Namun, proses ini bukan urutan yang pasti terjadi pada setiap orang; munculnya pikiran bunuh diri juga berbeda dari peralihan menuju tindakan. Pemahaman tersebut mengarahkan pendampingan untuk membantu seseorang menemukan pilihan, dukungan, dan langkah kecil yang masih mungkin dilakukan. (O’Connor & Kirtley, 2018)
Kebutuhan untuk merasa diterima dan memiliki hubungan yang bermakna juga menjadi bagian penting dalam memahami krisis. Interpersonal Theory of Suicide mengusulkan bahwa rasa tidak memiliki tempat dan persepsi menjadi beban bagi orang lain, terutama ketika disertai keputusasaan bahwa keadaan tersebut dapat berubah, berperan dalam munculnya keinginan bunuh diri. Persepsi menjadi beban perlu dipahami sebagai pengalaman subjektif, bukan bukti bahwa seseorang benar-benar membebani orang di sekitarnya. Di kampus, seseorang dapat memiliki banyak teman tetapi tetap merasa tidak mempunyai ruang aman untuk menceritakan kesulitannya. Implikasi praktisnya adalah membangun hubungan yang membuat orang merasa didengarkan, dihargai, dan tetap diterima ketika sedang mengalami kegagalan atau membutuhkan bantuan. (Van Orden et al., 2010)
Kepedulian dapat dimulai dari keberanian membuka percakapan secara tenang dan tanpa menghakimi. Ketika khawatir terhadap keselamatan seseorang, pertanyaan langsung seperti, “Apakah kamu sedang memikirkan untuk mengakhiri hidup?” dapat membantu membuka ruang untuk memahami kondisinya. Tinjauan Dazzi dan kolega (2014) tidak menemukan peningkatan pikiran bunuh diri yang signifikan pada peserta penelitian yang ditanya mengenai pikiran tersebut. Temuan ini membantu meluruskan anggapan bahwa bertanya tentang bunuh diri otomatis menanamkan gagasan itu. Setelah bertanya, berikan kesempatan untuk menjawab, dengarkan tanpa membandingkan penderitaan, dan hindari terburu-buru memberi nasihat. Respons seperti, “Terima kasih sudah bercerita. Aku ingin membantu kamu mendapatkan dukungan,” dapat menjadi awal untuk menghubungkannya dengan pertolongan yang sesuai. (Dazzi et al., 2014; NIMH, 2024)
Pada tingkat institusi, kepedulian perlu diwujudkan melalui sistem yang dapat digunakan sehari-hari. Mengacu pada pendekatan pencegahan WHO, kampus dapat memperjelas akses layanan psikologis, menyiapkan alur rujukan, melatih dosen dan tenaga kependidikan untuk merespons mahasiswa yang mengalami krisis, serta memastikan adanya tindak lanjut setelah bantuan awal. Upaya tersebut perlu berjalan bersama pencegahan perundungan, penghinaan, dan diskriminasi yang dapat memperberat penderitaan. Informasi mengenai bantuan sebaiknya mudah ditemukan, dengan penjelasan yang jelas tentang proses layanan dan kerahasiaannya. Dengan demikian, kampanye September dapat menjadi pintu masuk untuk membangun kebiasaan institusional: mengenali kesulitan lebih awal, merespons secara manusiawi, dan memastikan orang tidak kehilangan akses dukungan ketika paling membutuhkannya. (WHO, 2026)
Suicide Prevention Month mengingatkan bahwa setiap orang dapat mengambil peran sesuai kapasitasnya: bertanya, mendengarkan, membantu menjaga keselamatan, menghubungkan dengan tenaga profesional, dan tetap menanyakan kabar setelah krisis mereda. Dukungan teman atau keluarga dapat menjadi jembatan penting menuju penanganan oleh psikolog klinis, psikiater, atau fasilitas kesehatan. Jika seseorang menyatakan akan segera menyakiti dirinya atau keselamatannya terancam, dampingi dan segera cari pertolongan darurat melalui IGD terdekat. Bagi siapa pun yang sedang mengalami pikiran bunuh diri, menyampaikan kondisi kepada orang tepercaya merupakan langkah yang layak diambil sekarang. Meminta bantuan adalah cara menjaga diri; membangun lingkungan yang menyambut permintaan tersebut merupakan tanggung jawab bersama. (NIMH, 2024)
Daftar pustaka
Dazzi, T., Gribble, R., Wessely, S., & Fear, N. T. (2014). Does asking about suicide and related behaviours induce suicidal ideation? What is the evidence? Psychological Medicine, 44(16), 3361–3363. https://doi.org/10.1017/S0033291714001299
National Alliance on Mental Illness. (n.d.). Suicide prevention month. Laman NAMI
National Institute of Mental Health. (2024). 5 action steps to help someone having thoughts of suicide. Laman NIMH
O’Connor, R. C., & Kirtley, O. J. (2018). The integrated motivational–volitional model of suicidal behaviour. Philosophical Transactions of the Royal Society B: Biological Sciences, 373(1754), Article 20170268. https://doi.org/10.1098/rstb.2017.0268
Van Orden, K. A., Witte, T. K., Cukrowicz, K. C., Braithwaite, S. R., Selby, E. A., & Joiner, T. E., Jr. (2010). The interpersonal theory of suicide. Psychological Review, 117(2), 575–600. https://doi.org/10.1037/a0018697
World Health Organization. (2026, August 28). Suicide. Laman WHO
Share It On: