MindVenture 2026: Putra Putri Psikologi Hadir untuk Bantu Siswa Kenali Diri Sendiri
Putra Putri Fakultas Psikologi UNESA menggelar kegiatan psikoedukasi bertajuk MindVenture di SMAN 18 Surabaya pada Jumat, 22 Mei 2026. Kegiatan ini menyasar siswa-siswi kelas XI dengan tujuan membantu mereka mengenali potensi diri sekaligus membangun personal branding yang positif sejak dini.
Bukan sekadar seminar biasa, MindVenture dikemas dalam
format yang cukup dinamis — mulai dari pemaparan materi, ice breaking,
diskusi interaktif, hingga praktik langsung membangun personal branding.
Peserta juga diajak mengenal lebih dekat dunia perkuliahan, khususnya Fakultas
Psikologi UNESA, sehingga diharapkan mereka bisa lebih terarah dalam
merencanakan masa depan.
Kegiatan ini dipandu langsung oleh mahasiswa Psikologi UNESA sendiri, sebagai pemateri. Karena usia pemateri dan peserta tidak terpaut jauh, suasana diskusi terasa lebih personal dan santai.

Di akhir sesi, peserta diminta menuliskan kesan dan pesan
melalui Post-it sebagai bagian dari evaluasi. Cara yang sederhana, tapi
cukup efektif untuk menangkap respons langsung dari peserta.
Kegiatan MindVenture ini secara eksplisit memang sudah
mengaitkan dirinya dengan agenda pembangunan global, dan keterkaitannya cukup
nyata.
Yang paling langsung adalah poin 4 SDGs . MindVenture
tidak hanya berbicara soal akademik, tetapi juga mendorong siswa untuk memahami
diri sendiri — sebuah fondasi penting yang sering terlewat dalam sistem
pendidikan formal. Pendidikan yang berkualitas, dalam konteks ini, berarti
pendidikan yang juga menyentuh aspek psikologis dan pengembangan karakter.
Lebih jauh, kegiatan ini juga menyentuh SDGs poin 3 (Good
Health and Well-Being), khususnya kesehatan mental. Ketika siswa dibantu
untuk mengenali potensi dan membangun identitas diri secara positif, itu juga
berarti membangun fondasi kesehatan mental yang lebih kuat sebelum mereka
memasuki fase kehidupan yang lebih penuh tekanan — seperti dunia kuliah dan
karier.
MindVenture menjadi bukti kecil bahwa mahasiswa psikologi
tidak perlu menunggu lulus untuk mulai memberi dampak. Kadang, ruang kelas di
sekolah orang lain pun bisa jadi tempat yang tepat untuk memulai.
Share It On: