Memahami Dinamika Egosentrisme pada Usia Lanjut: Perspektif Kognitif dan Neurosains
Seiring bertambahnya usia, banyak orang mengaitkan fase penuaan dengan peningkatan kebijaksanaan dan kematangan emosional. Namun, penelitian dalam bidang psikologi kognitif dan perkembangan menunjukkan realitas yang lebih kompleks, di mana individu yang semakin tua sering kali menunjukkan peningkatan kecenderungan egosentrisme. Fenomena ini tidak bermakna bahwa lansia menjadi "egois" secara moral, melainkan merujuk pada bias kognitif dan emosional dalam memahami dunia melalui sudut pandang mereka sendiri. Dalam psikologi, hal ini sering dikaitkan dengan penurunan kemampuan untuk membedakan kondisi emosional diri sendiri dari emosi orang lain, yang secara ilmiah dikenal sebagai Emotional Egocentricity Bias (EEB) (Riva et al., 2016). Dinamika egosentrisme ini menjadi topik kajian yang penting bagi para akademisi maupun mahasiswa di lingkungan Fakultas Psikologi Universitas Negeri Surabaya (UNESA) guna memberikan pemahaman yang lebih komprehensif terkait psikologi perkembangan dan penuaan.
Menariknya, kecenderungan egosentrisme emosional ini tidak terjadi secara linier, melainkan membentuk kurva berbentuk U (U-shaped) sepanjang rentang kehidupan manusia. Berdasarkan studi neurosains yang diterbitkan dalam Frontiers in Aging Neuroscience, remaja dan individu dewasa akhir (lansia) menunjukkan tingkat EEB yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan individu dewasa muda dan paruh baya (Riva et al., 2016). Pada lansia, tingginya bias egosentris ini sangat berkaitan dengan perubahan struktural dan fungsional pada otak, khususnya pada area right supramarginal gyrus (rSMG). Area korteks ini memiliki fungsi krusial dalam mengatasi egosentrisme dengan membantu individu menekan perspektif diri sendiri (self-perspective) saat mencoba berempati. Seiring bertambahnya usia, terjadi degradasi konektivitas saraf di area tersebut sehingga lansia menjadi lebih rentan memproyeksikan perasaan mereka sendiri ketika berupaya memahami perasaan orang lain (Riva et al., 2016).
Selain faktor neurobiologis, peningkatan dinamika egosentrisme pada usia lanjut juga sangat didorong oleh faktor penurunan kapasitas kognitif umum. Fungsi eksekutif otak, terutama kemampuan inhibisi kognitif, kecepatan pemrosesan, dan memori kerja (working memory), mengalami penurunan secara alami pada lansia (Jin & Peng, 2024). Karena kapasitas sumber daya kognitif yang semakin terbatas, lansia sering kali kesulitan untuk secara aktif memblokir atau menahan informasi internal dan emosi mereka sendiri saat mengevaluasi perspektif orang lain. Hal ini sejalan dengan temuan Bailey dan Henry (2008) yang menyatakan bahwa performa lansia yang lebih rendah dalam tugas-tugas Theory of Mind (ToM) sebagian besar disebabkan oleh hilangnya fungsi inhibisi terhadap perspektif diri (disinhibition of the self-perspective). Akibatnya, pikiran mereka menggunakan semacam "jalan pintas mental" dengan sangat bergantung pada kacamata pribadi mereka.
Dampak dari egosentrisme kognitif ini cukup memengaruhi kehidupan sosial dan hubungan interpersonal lansia. Penelitian mutakhir dari Jin dan Peng (2024) menemukan bahwa lansia jauh lebih terpengaruh oleh pengalaman pribadi mereka di masa lalu (retrospective self-experiences) saat harus menilai intensitas emosi orang lain. Ketergantungan yang berlebihan pada perspektif diri ini membuat mereka terkadang keliru dalam membaca niat atau perasaan orang di sekitarnya, yang rentan berujung pada kesalahpahaman dengan anggota keluarga maupun pengasuh. Alih-alih secara objektif melihat kondisi orang lain, lansia sering memproyeksikan apa yang mungkin mereka rasakan jika berada di situasi tersebut—sebuah tendensi kognitif yang justru menghambat proses empati interpersonal murni (Bailey & Henry, 2008; Jin & Peng, 2024).
Memahami dinamika egosentrisme pada kelompok usia lanjut memberikan kerangka baru bagi pendekatan psikologi gerontologi dan perawatan lansia. Bagi masyarakat luas dan civitas akademika Fakultas Psikologi UNESA, fakta-fakta saintifik ini menegaskan bahwa perilaku egosentris pada lansia merupakan produk biologis dari penurunan fungsi neurokognitif, bukan sekadar kelemahan kepribadian atau hilangnya kepedulian. Dengan menyadari akar kognitif dari Emotional Egocentricity Bias, keluarga dan tenaga profesional dapat merancang bentuk komunikasi yang lebih toleran dan efektif. Intervensi psikologis ke depannya juga dapat difokuskan pada pemeliharaan fungsi eksekutif kognitif untuk membantu lansia menavigasi realitas sosial mereka, sehingga kualitas hubungan interpersonal di usia senja tetap dapat terjaga dengan harmonis.
Daftar Pustaka
Bailey, P. E., & Henry, J. D. (2008). Growing less empathic with age: Disinhibition of the self-perspective. The Journals of Gerontology: Series B, 63(4), P219–P226.
https://doi.org/10.1093/geronb/63.4.p219 Jin, M., & Peng, H. (2024). Who will be more egocentric? Age differences in the impact of retrospective self-experience on interpersonal emotion intensity judgment. Behavioral Sciences, 14(4), 299.
https://doi.org/10.3390/bs14040299 Riva, F., Triscoli, C., Lamm, C., Carnaghi, A., & Silani, G. (2016). Emotional egocentricity bias across the life-span. Frontiers in Aging Neuroscience, 8, 74.
https://doi.org/10.3389/fnagi.2016.00074
Share It On: