FGD “Safe Circle, Equal Soul” Dorong Kampus Inklusif dan Ramah bagi Mahasiswa Difabel
SaPPA-ABK bersama Task Force Empowerment Disability menyelenggarakan kegiatan Focus Group Discussion atau FGD bertema “Safe Circle, Equal Soul” pada Jumat, 22 Mei 2026, bertempat di Ruang Kelas 01.09 Gedung Terpadu Psikologi Olahraga UNESA. Kegiatan ini menjadi ruang dialog terbuka untuk memperkuat komitmen kampus dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, suportif, setara, dan inklusif bagi seluruh mahasiswa, khususnya mahasiswa difabel atau Madif.
Tema “Safe Circle, Equal Soul” diangkat sebagai penegasan bahwa setiap mahasiswa berhak memperoleh ruang yang aman untuk menyampaikan pengalaman, kebutuhan, dan harapannya tanpa takut mengalami diskriminasi. Kegiatan ini juga sejalan dengan poin 10.2 Sustainable Development Goals atau SDGs, yaitu pengurangan kesenjangan melalui peningkatan inklusi sosial bagi semua individu tanpa memandang latar belakang maupun kondisi difabilitas.
Dalam forum tersebut, mahasiswa difabel dan peserta lainnya berdiskusi secara interaktif mengenai berbagai pengalaman selama menjalani kehidupan akademik di kampus. Diskusi berlangsung terbuka dan suportif, sehingga peserta dapat saling berbagi pandangan terkait tantangan aksesibilitas, kesetaraan sosial, serta kebutuhan dukungan psikologis di lingkungan pendidikan tinggi.
Beberapa mahasiswa difabel menyampaikan kendala yang mereka alami selama proses perkuliahan. Mahasiswa tuli, misalnya, mengungkapkan kesulitan dalam memahami materi ketika penyampaian dosen berlangsung terlalu cepat, terutama ketika belum tersedia pendamping dalam situasi tertentu. Sementara itu, mahasiswa tuna netra menyampaikan bahwa keberadaan pendamping sangat membantu proses adaptasi, khususnya saat pengenalan lingkungan kampus dan kegiatan PKKMB.
Menanggapi aspirasi tersebut, Task Force Empowerment Disability menyampaikan rencana tindak lanjut berupa pelaksanaan FGD secara rutin setiap bulan. Langkah ini diharapkan dapat mempererat relasi antara kampus dan mahasiswa difabel, sekaligus membangun empati yang lebih kuat di lingkungan akademik. Selain itu, akan dikembangkan pula program konselor teman disabilitas sebagai bentuk pendampingan psikologis dan dukungan sosial bagi mahasiswa difabel.
Melalui kegiatan ini, peserta diharapkan semakin memiliki kesadaran bahwa inklusi bukan sekadar penyediaan fasilitas, melainkan juga tentang empati, komunikasi, dan kesediaan untuk memahami kebutuhan orang lain. FGD “Safe Circle, Equal Soul” menjadi langkah awal yang penting dalam membangun budaya kampus yang lebih setara, nyaman, dan bebas diskriminasi bagi seluruh mahasiswa.

Share It On: