Fenomena Solo Table Theory, Tren Makan Sendiri yang Ramai di Medsos
Memilih untuk pergi ke suatu tempat seorang diri, seperti menikmati makanan di sebuah tempat seorang diri, bahkan duduk seorang diri di sebuah kafe. Tanpa gangguan, tanpa teman, hanya makanan atau minuman yang menjadi “teman” kita di tempat tersebut.
Dulu, kita sering berpikir bahwa duduk seorang diri di tempat umum dilabeli sebagai tanda seseorang friendless atau kesepian, seakan-akan dunia berhenti jika kita tidak bisa memenuhi hal-hal tersebut.
Konsep ini menjadi bahan perbincangan di platform seperti TikTok dan Instagram. Banyak yang membagikan pengalaman, khususnya Gen Z, makan atau pergi sendirian tanpa ditemani, dengan membawa pesan untuk menormalisasi makan dan pergi ke mana-mana sendiri.
Apa itu Solo Table Theory?
Itu adalah sebuah tulisan dari Nexus Mag di platform Medium yang menjelaskan inti dari Solo Table Theory, yaitu belajar merasakan nyaman di meja sendiri dalam kesendirian dan merupakan bentuk penghormatan diri.
Seringkali konsep ini memuat banyak penilaian dari berbagai individu. Namun, banyak juga yang sepakat bahwa duduk sendirian tidak lagi terasa menakutkan, melainkan memberikan ketenangan dan membuat kita bisa merasakan hal-hal kecil yang lebih nyata. Seperti melihat interaksi orang lain, tidak terburu-buru, dan benar-benar menikmati makanan atau kopi yang sedang dirasakan.
Dari sudut pandang psikologis, fenomena ini berkaitan dengan Self-acceptance, yaitu kemampuan individu untuk menerima diri sendiri tanpa bergantung pada validasi sosial. Selain itu, konsep ini juga sejalan dengan Self-Determination Theory, khususnya pada aspek autonomy, di mana seseorang memiliki kebebasan dalam menentukan pilihan hidupnya, termasuk memilih untuk menikmati waktu sendiri.
Kebiasaan ini juga dapat membantu mengurangi kecemasan sosial atau Social Anxiety Disorder secara bertahap, karena individu mulai terbiasa menghadapi situasi sosial tanpa rasa takut berlebihan terhadap penilaian orang lain. Selain itu, aktivitas ini mendorong munculnya Mindfulness, yaitu kesadaran penuh terhadap momen yang sedang dijalani.
Fenomena ini juga dapat dikaitkan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan ke-3 yaitu Good Health and Well-being, yang menekankan pentingnya kesehatan mental dan kesejahteraan individu dalam kehidupan sehari-hari.
Di tengah dunia yang terus bergerak cepat dan penuh tuntutan sosial, mungkin duduk sendirian di sebuah meja bukan lagi tanda kesepian—melainkan tanda bahwa seseorang sedang belajar untuk cukup dengan dirinya sendiri.
Penulis: Helnemia Crystin
Email: helnemiacrystin@gmail.com
Share It On: