Childfree dalam Perspektif Psikologi Sosial: Antara Pilihan Hidup dan Tekanan Masyarakat
Sumber foto: iStockphoto (diunduh 21/5/2026)
Dalam beberapa tahun terakhir, istilah childfree semakin sering diperbincangkan di media sosial maupun kehidupan sehari-hari. Childfree merujuk pada keputusan seseorang atau pasangan untuk memilih tidak memiliki anak. Meski merupakan keputusan personal, pilihan ini masih sering dianggap bertentangan dengan standar kehidupan yang dianggap “ideal” oleh masyarakat, terutama bagi perempuan.
Perempuan yang memilih childfree kerap dihujani komentar seperti “kodrat perempuan itu menjadi ibu”, “nanti juga berubah pikiran”, dianggap egois, atau bahkan dicap bukan perempuan “seutuhnya”. Fenomena ini menunjukkan bahwa masyarakat masih menempatkan peran ibu sebagai identitas utama perempuan.
Dalam perspektif Psikologi Sosial, kondisi tersebut dapat dijelaskan melalui Social Role Theory dari Alice Eagly. Menurut Eagly (1987), masyarakat membentuk ekspektasi tertentu berdasarkan peran gender yang berkembang secara sosial dan budaya. Perempuan sejak lama diasosiasikan dengan peran mengasuh dan merawat keluarga. Karena itu, perempuan yang memilih childfree sering dianggap tidak sesuai dengan norma sosial yang ada.
Padahal, keputusan untuk memiliki ataupun tidak memiliki anak merupakan pilihan hidup yang kompleks. Keputusan tersebut dapat dipengaruhi oleh kesiapan mental, kondisi ekonomi, pengalaman hidup, tujuan personal, hingga pandangan seseorang mengenai kualitas hidup dan masa depan.
Di sisi lain, masyarakat sering membangun anggapan bahwa individu childfree pada akhirnya akan menyesal. Namun, penelitian Hansen (2012) menunjukkan bahwa memiliki anak tidak selalu berkaitan langsung dengan tingkat kebahagiaan yang lebih tinggi karena menjadi orang tua juga dapat memunculkan stres dan tekanan psikologis akibat besarnya tanggung jawab. Meski demikian, keputusan untuk memiliki anak juga bukan sesuatu yang buruk karena bagi sebagian orang, peran sebagai orang tua justru memberikan makna hidup dan kebahagiaan emosional.
Oleh karena itu, perdebatan mengenai childfree sebenarnya bukan tentang mana pilihan yang paling benar, melainkan bagaimana masyarakat sering kali memaksakan satu standar kehidupan kepada semua orang. Dalam teori Self-Determination dari Deci dan Ryan (2000), manusia memiliki kebutuhan dasar berupa autonomy, yaitu kebebasan untuk menentukan pilihan hidupnya sendiri. Ketika pilihan tersebut terus ditekan atau dihakimi oleh lingkungan, kesejahteraan psikologis seseorang dapat ikut terdampak.
Fenomena ini menunjukkan bahwa setiap individu memiliki latar belakang dan definisi kebahagiaan yang berbeda. Pembahasan ini juga berkaitan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 (Good Health and Well-Being) terkait kesejahteraan psikologis individu serta SDG 5 (Gender Equality) mengenai pengurangan stigma berbasis gender dalam menentukan pilihan hidup.
Daftar Pustaka:
Eagly, A. H. (1987). Sex Differences in Social Behavior: A Social-Role Interpretation. Hillsdale, NJ: Erlbaum.
Deci, E. L., & Ryan, R. M. (2000). The “What” and “Why” of Goal Pursuits: Human Needs and the Self-Determination of Behavior. Psychological Inquiry, 11(4), 227–268.
Hansen, T. (2012). Parenthood and happiness: A review of folk theories versus empirical evidence. Social Indicators Research, 108(1), 29–64.
Penulis: Nurul Aini Rosyida
Share It On: