Alumni Inspiratif Fakultas Psikologi UNESA: Muhammad Badril Riza, Dari Tempat Curhat Teman Hingga Menjadi Konselor Profesional
Muhammad Badril Riza merupakan alumni Fakultas Psikologi Universitas Negeri Surabaya (UNESA) angkatan 2011 yang kini aktif menjalani dua peran sekaligus, yaitu sebagai guru Bimbingan dan Konseling (BK) di salah satu SMA serta pengelola CV. NOL Infinity Sequence, sebuah lembaga yang bergerak di bidang pelatihan, psikotes, dan pengembangan sumber daya manusia.
Ketertarikannya terhadap dunia psikologi sebenarnya sudah muncul sejak duduk di bangku SMP. Saat itu, ia kerap menjadi tempat bercerita dan curhat bagi teman-temannya. Dari pengalaman sederhana tersebut, Riza mulai menyadari bahwa membantu orang lain menemukan solusi atas permasalahannya merupakan hal yang benar-benar ia sukai. Ketertarikan itulah yang kemudian membawanya memilih Psikologi sebagai jalan pengabdian dan profesinya.
Selama menjalani masa perkuliahan di UNESA, Riza dikenal sebagai mahasiswa yang aktif dalam berbagai kegiatan organisasi dan pengembangan kampus. Ia sempat menjadi wakil ketua DLM-P Psikologi pada 2011 , pada 2013 menjadi ketua Himpunan Mahasiswa Psikologi (HMP Psikologi) serta turut berkontribusi dalam pendirian Pusat Studi dan Layanan Disabilitas (PSLD) UNESA. Selain aktif berorganisasi, ia juga pernah menorehkan prestasi akademik dengan lolos ke ajang Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) ke-27 tahun 2014 yang diselenggarakan di Universitas Diponegoro, Semarang.

Pada awal masa kuliah, mengambil peminatan Psikologi Industri dan Organisasi (PIO). Namun, seiring perjalanan kariernya, ia justru lebih banyak berkecimpung di dunia pendidikan, pelatihan dan pengembangan sumber daya manusia. Meski pernah memperoleh kesempatan bekerja di salah satu anak perusahaan BUMN di Gresik , Badril, panggilan akrabnya, lebih memilih tetap berada di jalur yang saat ini dijalaninya karena merasa memiliki ruang yang lebih luas untuk berkembang sekaligus membangun lembaga yang dirintisnya.
Bagi Badril, rasa syukur merupakan salah satu kunci utama kebahagiaan. Prinsip tersebut menjadi pegangan dalam menjalani aktivitas sehari-hari, baik sebagai konselor maupun sebagai pelaku di bidang pengembangan SDM. Menurutnya, kebermanfaatan kepada orang lain adalah nilai penting yang harus terus dijaga dalam kehidupan dan pekerjaan.
Di akhir perbincangan, Riza menyampaikan pesan yang inspiratif bagi mahasiswa psikologi:
"Menjadi akademisi ataupun ilmuwan psikologi adalah anugerah yang hebat. Karena di mana ada manusia, di situ kita punya peran untuk bisa bermanfaat bagi orang lain. Ilmu psikologi yang saat ini kita dalami adalah jembatan untuk menjadikan orang lain lebih bahagia."
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa ilmu psikologi bukan sekadar teori di bangku perkuliahan, melainkan bekal nyata untuk memberikan dampak positif bagi masyarakat.
Perannya sebagai guru BK di sekolah menjadi bentuk kontribusi nyata terhadap pencapaian SDGs poin 3 (Good Health and Well-Being), khususnya dalam mendukung kesehatan mental remaja yang masih sering luput dari perhatian. Sementara itu, keterlibatannya dalam bidang pendidikan dan pengembangan SDM juga sejalan dengan SDGs poin 4 (Quality Education), bahwa pendidikan berkualitas tidak hanya berfokus pada capaian akademik, tetapi juga pada kesiapan mental, karakter, dan pengembangan potensi individu.
Share It On: