MINDSET: Sulit Menolak? Bisa Jadi Itu Tanda Kamu People Pleaser
Sumber foto: GETTY IMAGES (di unduh 20/3/26)
Pernah nggak sih kamu
ingin menolak, tapi akhirnya tetap bilang “iya” karena sungkan? Misalnya saat
diminta tolong padahal sedang lelah, atau menyetujui sesuatu hanya supaya orang
lain tidak kecewa. Sekilas terlihat seperti sikap baik, tetapi jika terjadi
terus-menerus, hal ini bisa jadi bukan sekadar kebaikan.
Dalam psikologi, kondisi
ini sering dikaitkan dengan people pleaser, yaitu kecenderungan seseorang untuk
selalu berusaha menyenangkan orang lain, bahkan sampai mengabaikan kebutuhan
dirinya sendiri. Perilaku ini biasanya muncul karena adanya keinginan untuk
diterima dan rasa takut jika ditolak atau tidak disukai. Akibatnya, seseorang
lebih mudah mengorbankan dirinya demi menjaga hubungan dengan orang lain.
Melalui sociometer
theory, Mark R. Leary menjelaskan bahwa harga diri seseorang sangat berkaitan
dengan bagaimana ia merasa diterima oleh lingkungannya. Ketika penerimaan itu
menjadi terlalu penting, seseorang bisa lebih mudah menyesuaikan diri secara
berlebihan. Hal ini termasuk terus mengatakan “iya” meskipun sebenarnya ingin
menolak.
Selain itu, kecenderungan
ini juga berhubungan dengan rendahnya assertiveness, yaitu kemampuan untuk
menyampaikan keinginan, pendapat, dan batasan diri secara jelas. Ketika
seseorang belum terbiasa bersikap asertif, menolak bisa terasa seperti hal yang
menakutkan atau membuat tidak nyaman. Akibatnya, ia memilih untuk mengiyakan
demi menghindari konflik atau perasaan bersalah.
Di kehidupan sehari-hari,
people pleaser sering dianggap sebagai pribadi yang ramah dan pengertian.
Namun, jika tidak disadari, kebiasaan ini bisa berdampak pada kelelahan
emosional, stres, bahkan kebingungan terhadap kebutuhan diri sendiri. Seseorang
bisa merasa terus memberi tanpa pernah benar-benar merasa cukup.
Memahami hal ini menjadi
penting, karena menjaga hubungan dengan orang lain juga perlu diimbangi dengan
menjaga diri sendiri. Kemampuan untuk mengenali batasan dan berani mengatakan
“tidak” merupakan bagian dari keterampilan psikologis yang sehat. Hal ini juga
sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) poin 3: Good Health and
Well-being, yang menekankan pentingnya kesehatan mental dan kesejahteraan
individu sebagai bagian dari kualitas hidup yang lebih baik.
Pada akhirnya, menjadi peduli terhadap orang lain tetaplah hal yang baik. Namun, penting untuk diingat bahwa mengatakan “tidak” bukan berarti egois. Justru, hal tersebut merupakan cara untuk menjaga keseimbangan antara kebutuhan diri sendiri dan orang lain.
Daftar Pustaka
Leary, M. R. (1999). Making sense of self-esteem. Current Directions in Psychological Science, 8(1), 32–35. https://doi.org/10.1111/1467-8721.00008
Alberti, R. E., & Emmons, M. L. (2008). Your Perfect Right: Assertiveness and Equality in Your Life (9th ed.). Impact Publishers.
American Psychological Association. (2022). Assertiveness. APA Dictionary of Psychology. https://dictionary.apa.org/assertiveness
Share It On: